Jika Nanti Aku Tak Berdaya

10 April 2017

adalah awal keberangkatanku menuju kota Madinah Al-Munawarrah. Kota dimana Nabi Muhammad SAW wafat dan dimakamkan di Masjidil Nabawi. Masih tidak percaya, bahwa beberapa hari sebelum itu keinginanku tercapai, padahal aku ingin pengumuman proposal itu nanti saja saat aku sudah di tanah suci agar doaku lebih bersenjata. Tetapi skenario Allah adalah yang terbaik, Allah Maha Mendengar, Allah is everywhere, doaku sudah lebih dulu dikabulkan sebelum aku mendarat di tanah suci. Aku  bersiap untuk berangkat menuju Madinah dalam rangka menunaikan ibadah Umroh. MasyaAllah, sudah kau kabulkan doaku, kau tambahkan lagi nikmat ini, “Lantas, nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan?” (QS.Ar-Rahman)

Setibanya di Madinah aku dan rombongan langsung menuju Masjidil Nabawi untuk sholat Isya. Begini rupanya bangunan masjid megah yang selama ini ada dibingkai rumahku. Bentuk aslinya bahkan lebih megah, mengagumkan. Keesokan harinya saat seusai sholat Magrib, ku lihat anak-anak kecil dari berbagai negara belajar mengaji bersama gurunya, lebih tepatnya menyetor hafalan Quran. Mereka mengalunkan suatu surah tetapi sayang aku tidak tahu surah apa yang mereka bacakan. Hari ketiga aku di Madinah, kami bersiap menuju Masjid Bir Ali untuk mengambil miqat. Dari sinilah semua hukum-hukum ibadah umrah mulai berlaku, tidak boleh saling bantah-bantahan, marah, berkata buruk, bersikap buruk, dll. Setelah dari Masjid Bir Ali, kami melanjutkan perjalanan ke Makkah selama 5 jam perjalanan menggunakan bus.

Disitulah perjalanan menuju mimpi itu dimulai

Seolah adalah perjalananku menuju Allah

Sinar matahari berlalu berganti sinar bulan

Pukul 9 malam kami tiba diperbatasan kota Makkah

LabbaikaAllahumma Labbaik

Ya Allah kami datang memenuhi panggilanMu

“Ya Allah aku datang…”

seketika hatiku terenyuh,

aku menitikkan air mata haru.

Inilah kota Makkah yang dijamin keamanannya di dalam Al-Quran.

Inilah kota suci itu,

kota impian umat muslim.

Tak lama setelah itu kami tiba di penginapan. Kami mendapatkan kunci kamar masing-masing, bersiap untuk ibadah suci. Kemudian kami makan malam terlebih dulu, karna waktu sudah menunjukkan pukul 23.00. Setelah itu barulah kami serombongan siap menuju Masjidil Haram.

Bismillah kami berjalan kaki menuju Masjidil Haram, hotel kami hanya berjarak kurang lebih 500m dari masjid.

Sambil berdzikir, langkah kaki ini terus mengayuh sampai aku berdiri tegak di depan Masjid Al-Haram.

Ku lihat sekitar,

bulan nampak begitu terang menyinari masjid ini,

aku tidak percaya aku bisa menginjakkan kaki di tanah suci ini,

aku tidak percaya bahwa sesaat lagi aku akan melihat bangunan hitam itu,

bangunan yang selama ini menyentuh hati manusia bagi siapa saja yang melihatnya,

Ka’bah.

Kemudian aku melanjutkan langkahku memasuki bagian dalam Masjidil Haram.

Saat telah memasuki masjid, aku terus berjalan mengikuti arah pemimpin rombongan kami.

Sampai pada suatu jalan, dimana dari kejauhan aku melihat banyak sekali manusia berputar, berjalan, mengelilingi suatu bangunan.

Aku belum bisa melihat bangunan itu, manusia disana sungguh banyak sekali.

Tidak lama kemudian, sampailah aku didepan sebuah bangunan megah

bangunan itu seolah menghipnotisku dalam sesaat.

Saat itu kami langsung membaca Doa melihat Ka’bah.

Setelah itu kami melakukan tawaf, dilanjutkan dengan sai, dan tahalul.

Sungguh proses itu sangatlah sederhana, tapi luar biasa melelahkan padaku saat itu.

Semua rukun ibadah umrah itu kami lakukan dari pukul 23.00 s/d 03.30. Dengan “drama” baru yaitu terpencar antara aku&ibu, dengan ayahku beserta rombongan lain. Ntah dari mana, selang satu jam lebih kami akhirnya bertemu dan melanjutkan ibadah sampai selesai. Sungguh ini adalah kelelahan yang Lillah..

9 Hari di Madinah – Makkah adalah waktu yang singkat untuk merasakan atmosphere ibadah umrah. Tapi 9 hari itu adalah waktu yang sangat cukup untuk membuat hatiku bergetar setiap kali aku mengingatnya, memandangi gambarnya lewat figura diruang sholat rumahku.

Tiba di Indonesia, aku bersyukur bahwa betapa beruntungnya aku.

Lalu aku berfikir…

Ya Allah, jika suatu saat nanti aku buta,

terimakasih sudah memberikanku nikmat penglihatan untuk melihat Ka’bahMu

Ya Allah, jika suatu saat nanti aku tuli,

terimakasih sudah memberikanku nikmat pendengaran untuk bisa mendengarkan alunan murotal ayat-ayat suciMu

Ya Allah, jika suatu saat nanti aku bisu,

terimakasih sudah kau berikan aku kesempatan dan kemampuan untuk bisa mengaji dan melafazkan ayat-ayat suciMu

Ya Allah, jika suatu saat nanti punggungku retak,

kaki dan tanganku tidak lagi sanggup menopang tubuh ini,

terimakasih setidaknya aku telah merasakan kesempatan betapa nikmatnya saat-saat sujud dihadapanMu ya Allah

Dan Ya Allah, jika suatu saat nanti aku tak berdaya,

terimakasih sudah memelukku begitu erat di dunia ini sambil berbisik “Selama ada Aku, semuanya akan baik-baik saja”

-Alia-

 

Catatan Kecil

06.31 di Selatan Awan.
Hm, selamat pagi Kumbang. 
Pagi ini matahari tampak cerah,
burung-burung sedang bersenandung merdu.
Ya, aku Daisy, si pengirim surat-surat itu,
kini hanya ingin mengirimkan catatan kecil untukmu
sebelum ku kirim surat terakhir.
Kumbang,
Sulit sekali rasanya bagiku untuk mengirimkan surat terakhir itu
Bahkan menuliskannya pun amat berat bagiku,
berkali-kali ku hapus tulisan tanganku,
berlembar-lembar kertas sia-sia terbuang,
hanya untuk menuliskan sebongkah harapan, kenyataan, dan angan-angan semata.
Karena tidak selamanya Kumbang dan Daisy selalu berada di tempat yang sama.
Makhluk hidup itu bertumbuh bukan?
Kau sebagai Kumbang,
tentu akan berkelana ke tempat-tempat lainnya,
berpindah-pindah sesuka hati.
Dan aku pun,
setelah tiba masa ku untuk mekar,
aku akan berproses lagi menjadi Bunga Daisy dengan kehidupan yang lain.
Tapi tenang,
semerbak harum bungaku akan tetap sama.
Kalau-kalau kau akan kembali,
kau sudah tau
mana Bunga Daisy kesukaanmu.

 🙂

 

“Kumbang, simpan catatan kecil ini sebelum surat terakhir itu benar-benar kau terima”  

 

What’s Next After S1? (bachelor degree)

what's next after s1 (bachelor degree) - (1)

“If a demand of rice in Indonesia is always increase, so do i. My time to be a bloom flower will getting closer”

Aku pernah mengutip suatu kalimat dari sebuah novel bahwa “Setiap bunga akan mekar pada waktunya. Kalau belum sekarang waktunya untuk sukses, berarti belum sekarang waktumu untuk mekar 🙂 “

Well, sukses itu relatif. Definisi sukses itu berbeda-beda setiap orang, dan makna dari kesuksesan itu sendiri tergantung dari pribadi yang merasakan, apakah dia merasa setelah mencapai sesuatu dia akan men-cap dirinya sebagai orang yang sukses atau tidak. Malah mungkin sebenarnya diri kita tidak bisa menilai bahwa kita adalah orang yang sukses setelah kita mencapai atau melakukan sesuatu. Biarlah orang lain dan Tuhan yang menilai seberapa besar, seberapa banyak kontribusi, usaha, dan kerja keras yang telah kita lakukan. To be honest, aku merasa belum pantas untuk menulis artikel tentang kesuksesan seperti ini (even skripsiku pun belum selesai saat aku menulis ini). Karena kontribusi, karya, usaha yang aku berikan untuk lingkunganku masih sangat sedikit.

When many young generation has made a big achievement and give inspiration to others, it is like a reverse gun for me to enhance my skill to be a worthwhile human being. Itu menjadi pacuan semangatku untuk terus maju menjadi pribadi (muslimah) yang berkualitas.

Tidak terasa, 1,5 bulan lagi diri ini dan teman teman seangkatan Gunadarma 2013 insyaAllah akan menyelesaikan tugas dan tanggung jawab sebagai mahasiswa S1. Lalu setelah S1 dan mendapatkan “gelar” S.kom, S.E, S.Psi, S.H, dan es-es lainnya, apakah kita berhenti sampai disini? So what’s next?

Belum cukup bagiku ilmu dan pengalaman yang kudapati selama kuliah S1 di World Class University (Gunadarma University) yang berfokus pada IT basis. Bukan salah universitas yang tidak memberikan ilmu atau pengalaman ‘lebih’ kepada mahasiswanya, tetapi bagaimana diri kita menggali ilmu lebih dalam dan mencari pengalaman lebih banyak dari sekedar duduk diruang kelas universitas. Apakah hanya dengan gelar S.Kom dari Gunadarma University kita bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan yang selaras dengan IT? Atau apakah dengan gelar S.Kom dari Gunadarma University kita bisa membuat suatu enterpreneur, like your own startup, or any technopreneur? 

Depends. It’s depend on your skill, knowledge, and Allah’s permission. Kalau hanya dengan gelar S.Kom tapi ilmu dan pengalaman kita dibidang IT udah banyak, mungkin kita bisa mewujudkan pertanyaan2 diatas dengan mudah. Tapi bagaimana jika seperti aku? Yang belum cukup banyak ilmu dan pengalaman di bidang IT. Calm down.. there is always a way. Ada baiknya menurut aku kita bikin “plan life” terlebih dahulu, walaupun kita tau sebaik-baiknya perencanaan adalah rencana Allah, tapi daripada hidup kita terbuang sia-sia karna ga terarah (Allah lebih gasuka hal ini karna hidup jadi gak bermanfaat),  lebih baik arahkan hidup kita untuk hal-hal yang baik. Niatkan “plan life” ini tulus dari hati atas dasar karna Allah, untuk Allah, untuk kebermanfaatan orang banyak, untuk memudahkan keberlangsungan hidup umat muslim, untuk Indonesia, dan untuk orangtua.

Ask yourself. Sebenernya gue ini mau jadi expert di bidang IT buat apa? buat siapa? Kalau pertanyaan itu dijawab dengan niatan yang baik, insyaAllah kita bakal selalu semangat untuk jadi orang yang terus belajar, willing to learn something new, open minded but selective to accept negative things, humble person, do kindness, and we will have a good quality of ourself.

Setelah S1 mungkin bakalan jadi another brand new day. because we will face another reality after college. Setelah S1 bakalan banyak banget kesempatan yang bisa kita raih selagi masih muda. Banyak banget yang bisa kita lakuin selagi semangat kita masih semangat anak muda banget yang lagi semangat-semangatnya untuk gali ilmu sebanyak-banyaknya, berkreasi, berkarya ini itu, sibuk (positive) sana sini. Selagi fisik, energi, pikiran yang alhamdulillah masih sehat dan normal we can do a lot of things that will give the good impact for our life. For example, gue bisa ikut kursus komputer sebebas-bebasnya di spesialisasi yang gue minati, gue bisa gali ilmu IT lewat training/pendidikan singkat di Telkomsel contohnya, ikut sertifikasi as a Junior Web Programmer, ikut Asia Pacific Young Conference di Singapore misalnya, ikut acara London International Youth Science Forum (recommended event ever! tiap tahun diadain tp ada batasan umur yaitu 16-21th), cobain jadi English teacher for primary school or for a very beginner in English (I would love to accept the offer if you have any great job as a English teacher for me hehe 😀 ), TRAVELLING as much as you can, make a best-seller novel, sketch draw and hunt more, ikut lomba photography atau lomba essay, continue my study to master degree either in Indonesia or overseas, preparing for the master degree requirements (TOEFL/IELTS, good essay, recommendation letter, etc) or menikah? good choice, but i have to be a good woman first if i want to get a good man, especially good at our faith, Islam, aqidah, and morals (akhlak).  atau bisa juga ikut short course di luar negeri barang 4-6 hari juga asik entah itu tentang IT atau bidang ilmu pengetahuan lainnya. Kalau aku ditanya bidang apa selain IT yang aku suka, aku bakalan jawab bidang geografi dan astronomi. Karena it is just amazing how can you know keadaan cuaca disetiap harinya? Dari mana kamu bisa membuat maps? Dari mana kamu bisa memperkirakan kalo setelah gempa bumi bakal kemungkinan ada atau engganya tsunami? Kenapa kalo lagi take-off dan landing position di pesawat, lampu harus dimatikan? Tentang daerah-daerah perbatasan, skala bumi, lapisan langit-langit (apa udah pernah ngecek ke atas awan? pake alat apa?) ilmu perbintangan, poros bumi, planet-planet, dan masih banyak lagi pertanyaan2 seputar geografi dan astronomi yang selalu membuat aku bertanya2. Kadang pengen dateng ke lembaga atau ke kementrian dan nanya langsung ke expertnya, but i don’t have that opportunity yet.. Dan sebenarnya dari ilmu geografi dan astronomi itu terdapat tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah kalau kita bisa memaknainya 🙂

Oke, sepertinya udah kejauhan perbincangan kita kali ini. The conclusion is.. after S1 please use your time to do a BENEFIT things! please jangan jadi pemuda yang pengangguran (i’m sorry but it’s true) yang main hp dan ikutin trend-trend masa kini, menurutku itu bukan cerminan anak bangsa yang berpendidikan, katanya udah S1? hehe. please be a LEADER not a FOLLOWER! MAKE SOMETHING! Karna sampe kapan kita mau ngikutin orang, make produk orang, sampe kapan perilaku hidup kita terus menjadi perilaku yang konsumtif? You are represent your family, your country, your origin, your religion, your university, and yourself. Make their proud because of your positive vibes.

Anyway kalo ngomongin soal generasi muda, aku akan bahas insyaAllah dipostingan berikutnya. And i’m sorry kalau postingan ini tulisannya tidak terstruktur dengan baik karna tidak pake draft alias sekali nulis langsung post.

So thankyou for reading!

Regards,

Alia.

A Dream Came True..

“Berdoa saja, karna tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini”

Seorang perempuan yang sangat baik hati berkata seperti itu saat diruangan eksekusi bulan Januari lalu.

Emosiku membuncah. Hatiku terjatuh-jatuh mendengarnya. Tak tahan lagi, air mata ku tumpah ruah. Aku sering mendengar statement itu, tapi baru kali itu aku amat memaknainya.

Ternyata benar, bahwa mimpi itu adalah perjuangan.

Mimpi itu adalah pengorbanan.

Mimpi itu adalah pembuktian.

Pembuktian kepada siapa? Kepada diri kita dan kepada Allah.

Mimpi itu adalah keseimbangan antara berdoa dan berusaha.

Membuktikan kepada Allah lewat usaha-usaha kecil yang kita lakukan di dunia.

Membuktikan kepada Allah bahwa kita benar-benar mengupayakannya.

Man Jadda Wa Jada (Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil) InsyaAllah

Membuktikan kepada Allah bahwa kita serius atas mimpi kita.

Membuktikan kepada Allah bahwa kita berusaha semaksimal mungkin sebagai tanda tanggung jawab kita atas doa yang kita panjatkan.

Dan ternyata benar doa itu adalah harapan.

“Semoga ga ujan”

*macet* “Jangan telat, jangan telat..”

See? Kita berharap untuk ga ujan, kita berharap untuk ga telat. Harapan itu adalah doa.

Karna harapan itu selalu menjadi senjata terakhir di setiap pertempuran.

Dan hanya kepadaNya-lah seharusnya hati ini berharap.

Menyerahkan, mengikhlaskan, memasrahkan segala sesuatunya kepada Allah.

Sembari berfikir “Jika Allah cinta, Allah pasti akan berikanku yang terbaik. Dan karna aku cinta Dia, aku percaya padaNya bahwa apapun dariNya adalah yang terbaik. Jika memang melalui jalan ini cintaMu padaku akan bertambah, maka aku ridho atas ketetapan itu sekalipun itu bukanlah jalan yang kuinginkan..”

Dan ternyata, statement “Berdoa saja, karna tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini” adalah benar adanya.

Lagi, fase kehidupan telah berganti.

Terimakasih Allah, untuk segalanya.

Terimakasih untuk keluarga, teman-teman, dan orang -orang diluar sana yang sudah membantuku merayu, membujuk, dan memohon kepada Allah hingga akhirnya doaku dan doa kalian dikabulkan.

Tanpa doa-doa itu senjataku hanya satu, doaku sendiri, tapi dengan kalian, senjataku menguat, mengudara, sampai di Arsy Allah :’)

Terakhir,

Sukses, menang, berhasil itu bukan untuk semakin meninggi,

justru untuk semakin merunduk.

“Karena apalah yang bisa kita sombongkan di dunia ini? Bahkan diri ini saja bukan milik kita..” -Alia

Terimakasihku

Ya Allah,

Terimakasih telah menguatkanku,

menguatkan mentalku

hingga aku tidak lagi mudah rapuh.

Terimakasih sudah memberikan kejadian ini kepadaku,

yang membuatku mendekat kepadaMu

yang membuatku tersadar bahwa

apa saja yang dilakukan di dunia ini harus “Karena Allah”

agar tidak ada hati yang kecewa.

Terimakasih sudah menggariskan takdir ini kepadaku,

yang membuatku tersadar bahwa

bukan seberapa baik diri ini di mata manusia,
tetapi seberapa baik diri ini di mataMu.

Bukan untuk mendapatkan pujian dari manusia,

tetapi untuk mendapatkan ridhoNya.

Terimakasih, dari sinilah aku merasakan jatuh yang sejatuh-jatuhnya,

lemah yang selemah-lemahnya

meluapkan segala emosi seluap-luapnya,

mengadukan segala masalah sebanyak-banyaknya,

hingga otak ini seringkali bertanya

“Apa niatmu?”

dan terjadilah benturan antara niat dengan hawa nafsu.

Hingga akhirnya aku malu,

aku malu meminta banyak tetapi sedikit bersyukur.

Aku malu meminta sesuatu tetapi hanya karna emosi.

Aku malu meminta sesuatu yang niatnya belum jernih.

Maka ku ulang lagi,

“Apa niatmu?”

Pertama, ku ikrarkan niat itu dengan satu kalimat

kucoba mengucapkan dari hati,

tetapi belum terasa kejernihannya.

Kedua, ku ikrarkan niat itu kucoba mengucapkan dengan sepenuh hati,

belum juga terasa.

Ketiga, keempat, sulit sekali ternyata meniatkan sesuatu dengan ikhlas dan jernih.

Maka ku coba perbaiki hatiku. Ku coba perbaiki sudut pandangku dalam melihat sesuatu.

Ku coba bertanya kepada otak ini agar berfikir secara logika,

“Apa niatmu?” “Mengapa?”

Akhirnya kudapatkan bahwa segala sesuatu itu ujungnya hanya pada Allah dan hanya untuk Allah. Tidak ada yang lain.

Segala garis kehidupan akan berujung padaNya.

Segala alur algoritma akan berhenti padaNya.

Segala akhir cerita akan berakhir padaNya.

Dan ketika aku belajar tentang “niat” itu, lama-lama kutemukan diriku di suatu waktu bahwa aku mengikrarkan niat itu dengan tulus, jernih,

“Lillahi ta’ala”

dan menitikkan air mata.

Tuhan, terimakasih

kini aku tau apa makna “Lillahi ta’ala”.

Terimakasih sudah membuka mata hatiku,

sehingga aku dapat melihat segala sesuatu dengan perspektif yang lain

oleh mata penglihatanku.

Tuhan, terimakasih telah mengujiku

ntah aku naik kelas atau tidak

aku tidak tahu.

Yang ku tahu jiwaku kini menguat,

kesabaranku terasah,

pikiranku ku biasakan untuk berfikir positif,

dan mindsetku kini hanya  “Usaha, Berdoa, Ikhlas”.

Terimakasih Tuhan kau izinkan aku untuk bermimpi.

Dengan mimpi aku menjadi kuat. Ku bayangkan bahwa “I belive i can” insyaAllah.

Dan kini, ku serahkan semuanya padaMu.

Terimakasih sudah memberikanku keluarga yang selalu mendoakanku,

teman-teman yang selalu mendukungku,

dan orang-orang yang tak terduga yang membantu, menginspirasi, dan memotivasiku.

 

Terimakasih Tuhan kutemukan cintaMu di dalam hidupku.

Dan dari semua ini aku dapat merasakan,
betapa hangatnya diriku dalam pelukMu :’)

Terimakasih ya Allah..

Terimakasih.

Dari hadits Anas bin Malik, 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya pahala besar karena 
balasan untuk ujian yang berat. 
Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, 
maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. 
Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. 
Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” 

(HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani).

 

Ikhlas karena Allah

Kini aku mengerti bagaimana sesuatu harus di ikhlaskan. Sesuatu yang tidak bisa dipaksakan. Dan mengikhlaskan dalam hal ini membuatku sangat tentram. Berdamai dengan hatiku sendiri yang selama ini telah menjadi egoku.

– Sungguh, ikhlas bukanlah perkara mudah. Aku pasrahkan semuanya pada Sang Khaliq. Aku ikhlaskan segalanya. Bukan berarti aku menyerah. Hanya saja aku menjaga. Siapapun dia yang hatinya terpaut dengan Allah.  Bagaimana jika orangnya bukan kamu?

"Biarkanlah sementara hati ini kosong dengan manusia,
 tapi penuh dengan asma Allah"

6 Inspirational People In 2016

              Aku punya beberapa teman baik yang hadir didalam perjalanan hijrahku, yang menjadi sosok inspirasiku, yang perilakunya sederhana tetapi bermakna. Nama-nama ini ku samarkan agar tidak terjadi kesalahfahaman dalam menilai seseorang secara berlebihan baik itu akhwat ataupun ikhwan. Dan bagi siapapun yang membaca ini, jika kamu tau ciri-ciri orang dibawah ini, mungkin ini kamu, temanmu, atau siapa saja yang kau kenal 🙂

– Dha. Anggap saja namanya Dha. Teman terbaikku belakangan ini, terutama semenjak aku hijrah, dan lebih utama lagi sejak kita berada dalam satu lingkaran kecil disebuah organisasi. Dia suka menulis sama sepertiku. Lembutnya mengajarkan aku untuk bersikap yang serupa, tutur katanya mengingatkanku untuk berkata baik, dan sikapnya mendewasakanku untuk sabar. Banyak teladan yang bisa ku ambil darinya. Aku belajar menjadi muslimah yang baik dari sifat Bunda Khadijah, Aisyah, Maryam, Fatimah, dan muslimah hebat lainnya, termasuk Dha. Sempurna Allah tutup aibmu dihadapanku. Tetap istiqomah kawan 🙂

– Hay. Anggap saja namanya Hay. Aku mengenalnya sudah hampir 3 tahun dibangku kuliah. Ia kelahiran 1993. Tapi sungguh, wajahnya tidak sebanding dengan umur 23-an. Setiap kali aku berpapasan atau bertemu dengannya, pasti aku akan sedikit berteriak seraya menyapa “Hayyy!!”  dengan ekspresi wajah gembira. Ia pun selalu melemparkan senyum giginya. Ia selalu tampak ceria dan gembira, walau tidak ada yang tahu bagaimana situasi hatinya. Setiap bertemu dengannya, mengajarkanku untuk selalu menebar kebahagiaan kepada lingkungan sekitarnya. Aku dan temanku Dha selalu senang hati setiap bertemu dengannya. Guess who?

– Ei. Yang satu ini aku bertemu dengannya Dibawah Pohon Rindang (DPR) saat pertama kali masuk kuliah tingkat 2. Aku yakin sekali Ei di dirimu ada mutiara sebersih embun pagi semengkilat berlian yang belum terlihat secara sempurna. Semoga jodohmu menemukan mutiara itu. Ada beberapa hal yang aku kagumi dari sosok Ei. Kamu bisa menasehati kawan sepantaran dengan bahasa gaulmu, dengan singkat dan tepat tetapi tanpa membuat sakit hati. Kamu teman perempuanku yang sangat lemah lembut tetapi dalam waktu yang bersamaan kamu justru menutupi itu. Aku selalu doakanmu dan sahabat-sahabatku yang lainnya agar kalian mendapatkan hidayahNya. Tak perlulah aku deskripsikan panjang lebar tentangmu disini karna aku pernah kirim surat sekaligus novel bagus untukmu. Yakan Ei? hehe

– Sha. Sha, sungguh aku baru betul-betul akrab denganmu disaat masa lalu yang kelam itu terjadi. Kita pernah berada di masa kelam yang hampir sama. Sungguh itu sangat kelam dan aku tidak ingin membahasnya. Tetapi tahukah kalian? Justru dari masa kelam nan gelap gumpita itulah, secercah cahayaNya datang kepadaku. Aku tidak tau bagaimana denganmu Sha, tetapi seiring berjalannya waktu, aku temukanmu sudah berhijrah juga :’) aku sungguh senang melihat temanku yang mulai merubah dirinya sedikit demi sedikit. Mendekatkan dirinya kepada Allah. Berusaha mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya. Itu semua terlihat dari cara kamu berpakaian, dari kegiatan2 islami yang pelan-pelan kamu coba ikuti, dan dari antusias ceritamu tentang “kenyamanan saat menggunakan pakaian syar’i saat di warung makan ayam goreng kremes belakang kampus. Aku juga merasa ada teman hijrah yang sama-sama sedang berbenah diri, padahal kita sama-sama tahu “aku dulu bukan kyk gini banget, jauh”. Ya, jauh dari Allah. Tapi, kamu juga menginspirasiku. Bahwasannya hidayah bisa datang kapan saja, dimana saja. Dan kamu juga menjadi ‘penyadar’ ku bahwa janganlah menganggap diri sudah baik dan banyak ilmu padahal yang kita miliki mungkin hanya 1% dari luasnya ilmu. Kamu jugalah yg sekarang menjadi teman dakwah dan berbagi cerita tentang perjalanan ini. Tetaplah menjadi teman dakwahku Sha 🙂

– Ef. Matanya meneduhkan. Senyumnya menentramkan. Pastilah hatinya selalu damai. Pergaulannya luas tapi tetap pada batasannya. Pandangannya terjaga. Akalnya cerdas. Hatinya tertaut pada masjid. InsyaAllah mantap ilmu agamanya. Sungguh sosok ini sudah memenuhi ciri-ciri The Perfect Muslim/Muslimah. Inilah calon pemimpin bangsa yang baik untuk Indonesia menurutku, setidaknya kelak untuk keluarganya sendiri. Selalulah ajak teman-temanmu ini untuk melakukan kebaikan yang mendekatkan kita kepada Allah kawan. Agar kita tidak hanya berteman di dunia tetapi akan terus berteman hingga ke surgaNya insyaAllah. Keep istiqomah Ef 🙂

– Of. Yang satu ini berbeda. Kalau teman-teman diatas berasal dari kalangan FIKTI, kalau yang ini dari Psikologi. Kami seangkatan. Aku baru mengenalnya beberapa bulan yang lalu, saat aku ingin melakukan wawancara untuk bergabung di salah satu Lembaga Dakwah Islam (LDK) di kampusku. Sebetulnya aku sudah familiar dengan wajahnya ketika aku ikut kegiatan2 dari LDK kampusku, atau sekedar melihatnya di sekret masjid kampus. Tetapi Allah baru memperkenalkanku dengannya sekitar 4-5 bulan yang lalu. Sungguh aku iri pada kesholehannya saat pertama kali bertemu, bahkan sampai saat ini. Dia luar biasa. Akhlaknya sangat baik. Wajahnya tidak cantik, tetapi meneduhkan. Suaranya bagai simfoni hitam yang mengalun indah, walau aku belum pernah mendengar lantunan ayat-ayat suci darinya, tetapi aku yakin, ketika dia membacakannya itu adalah melodi paling merdu yang pernah aku dengar. Matanya seakan tidak pernah melihat kemaksiatan. Tutur katanya senantiasa jujur. Dia apa adanya. Dia sederhana tetapi memiliki segalanya. Dia orang kedua setelah Dha yang menjadi sosok inspirasiku selain Khadijah, Fatimah, Aisyah, dan Maryam. Of, semoga aku selalu bisa dekat denganmu dan menjadi teman baikmu agar aku dapat meniru kebaikan-kebaikan yang kamu terbarkan dan semoga langkahmu selalu berada di jalanNya 🙂

              Itu dia “6 Inspirational People in 2016” versi saya. Kalian begitu menginspirasi, setiap hal yang kalian lakukan memberikan energi positif bagi diriku yang membuat kacamata hidupku berubah. Aku bisa melihat hal-hal kecil yang indah walau kasat mata, aku dapat mendengar merdunya kebaikan walau tak dilisankan. Kalian adalah teman-teman syurgaku. Salah satu rezeki dari Allah kepada kita adalah ketika kita dikelilingi oleh orang-orang yang mendekatkan kita kepadaNya. Dan itu kalian 🙂 Semoga Allah selalu memberikan cahayaNya disetiap jalan setapak yang kita lewati, menjaga ukhuwah islamiyah diantara kita semua, dan menyatukan kembali di syurgaNya, aamiin.

Sukses selalu teman2, teruslah menginspirasi tanpa henti!
Teman perjalananmu,

Alia.