Terimakasihku

Ya Allah,

Terimakasih telah menguatkanku,

menguatkan mentalku

hingga aku tidak lagi mudah rapuh.

Terimakasih sudah memberikan kejadian ini kepadaku,

yang membuatku mendekat kepadaMu

yang membuatku tersadar bahwa

apa saja yang dilakukan di dunia ini harus “Karena Allah”

agar tidak ada hati yang kecewa.

Terimakasih sudah menggariskan takdir ini kepadaku,

yang membuatku tersadar bahwa

bukan seberapa baik diri ini di mata manusia,
tetapi seberapa baik diri ini di mataMu.

Bukan untuk mendapatkan pujian dari manusia,

tetapi untuk mendapatkan ridhoNya.

Terimakasih, dari sinilah aku merasakan jatuh yang sejatuh-jatuhnya,

lemah yang selemah-lemahnya

meluapkan segala emosi seluap-luapnya,

mengadukan segala masalah sebanyak-banyaknya,

hingga otak ini seringkali bertanya

“Apa niatmu?”

dan terjadilah benturan antara niat dengan hawa nafsu.

Hingga akhirnya aku malu,

aku malu meminta banyak tetapi sedikit bersyukur.

Aku malu meminta sesuatu tetapi hanya karna emosi.

Aku malu meminta sesuatu yang niatnya belum jernih.

Maka ku ulang lagi,

“Apa niatmu?”

Pertama, ku ikrarkan niat itu dengan satu kalimat

kucoba mengucapkan dari hati,

tetapi belum terasa kejernihannya.

Kedua, ku ikrarkan niat itu kucoba mengucapkan dengan sepenuh hati,

belum juga terasa.

Ketiga, keempat, sulit sekali ternyata meniatkan sesuatu dengan ikhlas dan jernih.

Maka ku coba perbaiki hatiku. Ku coba perbaiki sudut pandangku dalam melihat sesuatu.

Ku coba bertanya kepada otak ini agar berfikir secara logika,

“Apa niatmu?” “Mengapa?”

Akhirnya kudapatkan bahwa segala sesuatu itu ujungnya hanya pada Allah dan hanya untuk Allah. Tidak ada yang lain.

Segala garis kehidupan akan berujung padaNya.

Segala alur algoritma akan berhenti padaNya.

Segala akhir cerita akan berakhir padaNya.

Dan ketika aku belajar tentang “niat” itu, lama-lama kutemukan diriku di suatu waktu bahwa aku mengikrarkan niat itu dengan tulus, jernih,

“Lillahi ta’ala”

dan menitikkan air mata.

Tuhan, terimakasih

kini aku tau apa makna “Lillahi ta’ala”.

Terimakasih sudah membuka mata hatiku,

sehingga aku dapat melihat segala sesuatu dengan perspektif yang lain

oleh mata penglihatanku.

Tuhan, terimakasih telah mengujiku

ntah aku naik kelas atau tidak

aku tidak tahu.

Yang ku tahu jiwaku kini menguat,

kesabaranku terasah,

pikiranku ku biasakan untuk berfikir positif,

dan mindsetku kini hanya  “Usaha, Berdoa, Ikhlas”.

Terimakasih Tuhan kau izinkan aku untuk bermimpi.

Dengan mimpi aku menjadi kuat. Ku bayangkan bahwa “I belive i can” insyaAllah.

Dan kini, ku serahkan semuanya padaMu.

Terimakasih sudah memberikanku keluarga yang selalu mendoakanku,

teman-teman yang selalu mendukungku,

dan orang-orang yang tak terduga yang membantu, menginspirasi, dan memotivasiku.

 

Terimakasih Tuhan kutemukan cintaMu di dalam hidupku.

Dan dari semua ini aku dapat merasakan,
betapa hangatnya diriku dalam pelukMu :’)

Terimakasih ya Allah..

Terimakasih.

Dari hadits Anas bin Malik, 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya pahala besar karena 
balasan untuk ujian yang berat. 
Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, 
maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. 
Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. 
Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” 

(HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani).

 

Ikhlas karena Allah

Kini aku mengerti bagaimana sesuatu harus di ikhlaskan. Sesuatu yang tidak bisa dipaksakan. Dan mengikhlaskan dalam hal ini membuatku sangat tentram. Berdamai dengan hatiku sendiri yang selama ini telah menjadi egoku.

– Sungguh, ikhlas bukanlah perkara mudah. Aku pasrahkan semuanya pada Sang Khaliq. Aku ikhlaskan segalanya. Bukan berarti aku menyerah. Hanya saja aku menjaga. Siapapun dia yang hatinya terpaut dengan Allah.  Bagaimana jika orangnya bukan kamu?

"Biarkanlah sementara hati ini kosong dengan manusia,
 tapi penuh dengan asma Allah"

6 Inspirational People In 2016

              Aku punya beberapa teman baik yang hadir didalam perjalanan hijrahku, yang menjadi sosok inspirasiku, yang perilakunya sederhana tetapi bermakna. Nama-nama ini ku samarkan agar tidak terjadi kesalahfahaman dalam menilai seseorang secara berlebihan baik itu akhwat ataupun ikhwan. Dan bagi siapapun yang membaca ini, jika kamu tau ciri-ciri orang dibawah ini, mungkin ini kamu, temanmu, atau siapa saja yang kau kenal 🙂

– Dha. Anggap saja namanya Dha. Teman terbaikku belakangan ini, terutama semenjak aku hijrah, dan lebih utama lagi sejak kita berada dalam satu lingkaran kecil disebuah organisasi. Dia suka menulis sama sepertiku. Lembutnya mengajarkan aku untuk bersikap yang serupa, tutur katanya mengingatkanku untuk berkata baik, dan sikapnya mendewasakanku untuk sabar. Banyak teladan yang bisa ku ambil darinya. Aku belajar menjadi muslimah yang baik dari sifat Bunda Khadijah, Aisyah, Maryam, Fatimah, dan muslimah hebat lainnya, termasuk Dha. Sempurna Allah tutup aibmu dihadapanku. Tetap istiqomah kawan 🙂

– Hay. Anggap saja namanya Hay. Aku mengenalnya sudah hampir 3 tahun dibangku kuliah. Ia kelahiran 1993. Tapi sungguh, wajahnya tidak sebanding dengan umur 23-an. Setiap kali aku berpapasan atau bertemu dengannya, pasti aku akan sedikit berteriak seraya menyapa “Hayyy!!”  dengan ekspresi wajah gembira. Ia pun selalu melemparkan senyum giginya. Ia selalu tampak ceria dan gembira, walau tidak ada yang tahu bagaimana situasi hatinya. Setiap bertemu dengannya, mengajarkanku untuk selalu menebar kebahagiaan kepada lingkungan sekitarnya. Aku dan temanku Dha selalu senang hati setiap bertemu dengannya. Guess who?

– Ei. Yang satu ini aku bertemu dengannya Dibawah Pohon Rindang (DPR) saat pertama kali masuk kuliah tingkat 2. Aku yakin sekali Ei di dirimu ada mutiara sebersih embun pagi semengkilat berlian yang belum terlihat secara sempurna. Semoga jodohmu menemukan mutiara itu. Ada beberapa hal yang aku kagumi dari sosok Ei. Kamu bisa menasehati kawan sepantaran dengan bahasa gaulmu, dengan singkat dan tepat tetapi tanpa membuat sakit hati. Kamu teman perempuanku yang sangat lemah lembut tetapi dalam waktu yang bersamaan kamu justru menutupi itu. Aku selalu doakanmu dan sahabat-sahabatku yang lainnya agar kalian mendapatkan hidayahNya. Tak perlulah aku deskripsikan panjang lebar tentangmu disini karna aku pernah kirim surat sekaligus novel bagus untukmu. Yakan Ei? hehe

– Sha. Sha, sungguh aku baru betul-betul akrab denganmu disaat masa lalu yang kelam itu terjadi. Kita pernah berada di masa kelam yang hampir sama. Sungguh itu sangat kelam dan aku tidak ingin membahasnya. Tetapi tahukah kalian? Justru dari masa kelam nan gelap gumpita itulah, secercah cahayaNya datang kepadaku. Aku tidak tau bagaimana denganmu Sha, tetapi seiring berjalannya waktu, aku temukanmu sudah berhijrah juga :’) aku sungguh senang melihat temanku yang mulai merubah dirinya sedikit demi sedikit. Mendekatkan dirinya kepada Allah. Berusaha mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya. Itu semua terlihat dari cara kamu berpakaian, dari kegiatan2 islami yang pelan-pelan kamu coba ikuti, dan dari antusias ceritamu tentang “kenyamanan saat menggunakan pakaian syar’i saat di warung makan ayam goreng kremes belakang kampus. Aku juga merasa ada teman hijrah yang sama-sama sedang berbenah diri, padahal kita sama-sama tahu “aku dulu bukan kyk gini banget, jauh”. Ya, jauh dari Allah. Tapi, kamu juga menginspirasiku. Bahwasannya hidayah bisa datang kapan saja, dimana saja. Dan kamu juga menjadi ‘penyadar’ ku bahwa janganlah menganggap diri sudah baik dan banyak ilmu padahal yang kita miliki mungkin hanya 1% dari luasnya ilmu. Kamu jugalah yg sekarang menjadi teman dakwah dan berbagi cerita tentang perjalanan ini. Tetaplah menjadi teman dakwahku Sha 🙂

– Ef. Matanya meneduhkan. Senyumnya menentramkan. Pastilah hatinya selalu damai. Pergaulannya luas tapi tetap pada batasannya. Pandangannya terjaga. Akalnya cerdas. Hatinya tertaut pada masjid. InsyaAllah mantap ilmu agamanya. Sungguh sosok ini sudah memenuhi ciri-ciri The Perfect Muslim/Muslimah. Inilah calon pemimpin bangsa yang baik untuk Indonesia menurutku, setidaknya kelak untuk keluarganya sendiri. Selalulah ajak teman-temanmu ini untuk melakukan kebaikan yang mendekatkan kita kepada Allah kawan. Agar kita tidak hanya berteman di dunia tetapi akan terus berteman hingga ke surgaNya insyaAllah. Keep istiqomah Ef 🙂

– Of. Yang satu ini berbeda. Kalau teman-teman diatas berasal dari kalangan FIKTI, kalau yang ini dari Psikologi. Kami seangkatan. Aku baru mengenalnya beberapa bulan yang lalu, saat aku ingin melakukan wawancara untuk bergabung di salah satu Lembaga Dakwah Islam (LDK) di kampusku. Sebetulnya aku sudah familiar dengan wajahnya ketika aku ikut kegiatan2 dari LDK kampusku, atau sekedar melihatnya di sekret masjid kampus. Tetapi Allah baru memperkenalkanku dengannya sekitar 4-5 bulan yang lalu. Sungguh aku iri pada kesholehannya saat pertama kali bertemu, bahkan sampai saat ini. Dia luar biasa. Akhlaknya sangat baik. Wajahnya tidak cantik, tetapi meneduhkan. Suaranya bagai simfoni hitam yang mengalun indah, walau aku belum pernah mendengar lantunan ayat-ayat suci darinya, tetapi aku yakin, ketika dia membacakannya itu adalah melodi paling merdu yang pernah aku dengar. Matanya seakan tidak pernah melihat kemaksiatan. Tutur katanya senantiasa jujur. Dia apa adanya. Dia sederhana tetapi memiliki segalanya. Dia orang kedua setelah Dha yang menjadi sosok inspirasiku selain Khadijah, Fatimah, Aisyah, dan Maryam. Of, semoga aku selalu bisa dekat denganmu dan menjadi teman baikmu agar aku dapat meniru kebaikan-kebaikan yang kamu terbarkan dan semoga langkahmu selalu berada di jalanNya 🙂

              Itu dia “6 Inspirational People in 2016” versi saya. Kalian begitu menginspirasi, setiap hal yang kalian lakukan memberikan energi positif bagi diriku yang membuat kacamata hidupku berubah. Aku bisa melihat hal-hal kecil yang indah walau kasat mata, aku dapat mendengar merdunya kebaikan walau tak dilisankan. Kalian adalah teman-teman syurgaku. Salah satu rezeki dari Allah kepada kita adalah ketika kita dikelilingi oleh orang-orang yang mendekatkan kita kepadaNya. Dan itu kalian 🙂 Semoga Allah selalu memberikan cahayaNya disetiap jalan setapak yang kita lewati, menjaga ukhuwah islamiyah diantara kita semua, dan menyatukan kembali di syurgaNya, aamiin.

Sukses selalu teman2, teruslah menginspirasi tanpa henti!
Teman perjalananmu,

Alia.

Surat Ke Dua

Sore hari di Ruang Rindu pukul 17.15

Teruntuk Jingga,

“Kuputuskan untuk mengirim surat kedua ini untuk-nya, tolong jangan beritahu siapa pengirimnya”

Belum sempat aku mendengar jawaban dari Jingga, langsung kuputuskan telfon itu.

Awalnya ku ragu. Tetapi, kurasa aku harus mengirimkan surat ini sebelum sampai disurat terakhir.

———————————-///————————————-

-Jingga-

“Kuputuskan untuk mengirim surat kedua ini untuk-nya, tolong jangan beritahu siapa pengirimnya”

Belum sempat aku menjawab, telfon terputus. Padahal aku ingin meyakinkan dia sekali lagi tentang surat kedua ini. Aku kehilangan kontaknya beberapa hari lalu setelah percakapan tentang surat kedua ini. Tetapi tiba-tiba saja dia menelfon ke rumahku dan menyampaikan pesan itu.

Entahlah, yang jelas aku harus membaca isi surat ini terlebih dulu sebelum ku sampaikan kepada Kumbang. Karena aku tahu.. Daisy ragu tentang ini..

dd

Untuk Kumbang,

Sebentar biarkan ku menarik nafas terlebih dulu sebelum aku menuliskan sesuatu dari kata-kata yang paling dalam.

Baiklah aku sudah siap.

Lama waktuku kian berjalan,

Aku terus tumbuh menjadi bunga Daisy yang siap mekar,

tetapi belum mekar.

Setiap bunga memiliki waktu mekar yang berbeda, 

pun diriku.

Dalam masa itu aku seolah bertanya akan keberadaanmu,

Dalam semak-semak ku mengusainya,

Dalam daun yang jatuh ku menerawang,

Dalam embun pagi ku menghela,

dan dalam rintik hujan ku berdoa.

Aku ingin sesuatu yang tidak disengaja itu terjadi,

tetapi sepertinya aku seperti men-sengajakan sesuatu itu

sehingga Tuhan tidak merestui.

Burung Melampitta berkata bahwa menjaga hati makhluk lain itu sulit,

tetapi nuraniku merasa,

alangkah lebih sulit untuk menjaga hati sendiri.

Tidak, Aku tidak sedang membicarakan hati,

itu bukan topik dari perbincangan ini.

Setidaknya bukan topik utama.

Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku utarakan,

apa daya aku hanya bisa mengibaratkan..

Ada sesuatu yang ingin aku tulis,

tetapi aku bahkan tidak sanggup untuk menguntainya menjadi rangkaian kata.

Kumbang,

surat ini sudah lama ku simpan dilemari kayu.

Hanya saja belum tersampaikan.

Kertasnya sudah mulai menguning,

tapi tulisannya masih tetap terbaca.

Aku selalu ingat untuk mengirimnya,

tetapi aku lebih memilih untuk menahannya,

demi sebuah alasan tertentu.

Dan dari cerita seorang teman, aku sedikit tau sesuatu.

Dia yang memberitahuku untuk pertama kalinya

tentang kejadian disebuah gedung.

Dia yang menjawab pertanyaan konyolku dengan serius

disaat aku benar-benar bergurau.

Dia yang menyadarkanku bahwa seseorang itu ada.

Dan karna dia,

akhirnya ku putuskan untuk mengirim surat

lewat amplop coklat ini.

Dia adalah..

Jingga.

Kurasa surat kedua ini cukup. Aku tidak ingin berlarut – larut dalam menulis surat ini.

Toh hanya angin yang membaca,

tak bermakna,

picisan.

Lagi – lagi,

semoga kau tidak mengenaliku.

Sampai Ridho-Nya yang menggerakkanmu untuk bertemu denganku.

 

Kumbang,

Aku hanya bunga biasa yang tak mampu berkata,

bersuara, bahkan berteriak.

Tetapi aku dapat menari tanpa harmony

didalam keheningan malam

lewat lincahnya aksara – aksara yang kubuat.

 

– Semoga embunmu tetap menyejukkan hati

bagi siapa saja yang melihatnya-

Semilir Angin..

tumblr_static_night_sky_wallpaper_by_dji435-d66882b

Angin berhembus tenang malam ini

seperti menyapa ranting pohon yang mulai kedinginan

Angin berhembus melewati pohon yang tidak lagi ada daunnya,

bertanya “dimana daun-daunmu itu?”

“Aku menggugurkannya, musimku telah tiba. Musim gugur.” Jawabku.

Rinduku terungkap,

oleh embun yang hinggap di daun sebelah,

“Sabarlah kau dalam menanti daun-daun lebatmu tumbuh lagi” ucapnya, lalu ia berubah menjadi air.

Diam. Aku hanya bisa diam. Melewati malam-malam panjang. Menanti daun-daun itu.

Kebas diriku dihantam angin malam berkali-kali.

Dia baik tapi menyakitkan..

Sekarang musim gugur. Tetapi hujan kadang membasahi bumi ini.

Hujan menerpa wajahku seraya berkata,

“Cerialah dalam penantianmu”, singkat.. kemudian hujan pergi.

Basah kayuku dibuatnya membuat malam ini semakin sulit.

Enggan menyapa bulan tetapi butuh hangat sinarnya.

Malam ini bintang tidak ada dilangit hitam itu.

Bintang yang akhir-akhir ini menjadi pelita di gelap gumpitanya samudera.

Pohon ini merindukan bintang.

Yang selalu membawa kebahagiaan,

keceriaan,

dan kedamaian,

saat daun-daun itu melekat di dirinya..

 

 

 -Alia’s Mind Blowing-